Kajian OnLine: Ma’rifatullah

بسم الله الر حمن الر حيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
ان الحمد لله نحمده ونستعينه ونستهديه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فهو المهتد ومن يضلل فلن تجد له وليا مرشدا..

ﻭ ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺣﺪﻩ ﻻ ﺷﺮﻳﻚ ﻟﻪ ؛ ﻟﻪ ﺍﻟﻤﻠﻚ ﻭ ﻟﻪ ﺍﻟﺤﻤﺪ ، ﻳﺤﻴﻰ ﻭ ﻳﻤﻴﺖ ﻭ ﻫﻮ ﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﺷﺊ ﻗﺪﻳﺮ ﻭ ﺇﻟﻴﻪ ﺍﻟﻤﺮﺟﻊ ﻭ ﺍﻟﻤﺼﻴﺮ ..
ﻭﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪﺍ ﻋﺒﺪﻩ ﻭ ﺭﺳﻮﻟﻪ ، ﺑﻠﻎ ﺍﻟﺮﺳﺎﻟﺔ ﻭ ﺃﺩﻯ ﺍﻷﻣﺎﻧﺔ ، ﻭ ﻧﺼﺢ ﺍﻷﻣﺔ ﻭ ﻛﺸﻒ ﺍﻟﻐﻤﺔ ، ﻭ ﺟﺎﻫﺪ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺭﺑﻪ ﺣﺘﻰ ﺃﺗﺎﻩ ﺍﻟﻴﻘﻴﻦ ..

أما بعد.


Dalam sebuah hadits yang cukup panjang, Rasulullah صلى الله عليه و سلم menceritakan perihal datangnya 2 malaikat di dalam kubur seraya menanyakan beberapa hal berikut,

ﻳَﺎ ﻫَﺬَﺍ ﻣَﻦْ ﺭَﺑُّﻚَ ﻭَﻣَﺎ ﺩِﻳﻨُﻚَ ﻭَﻣَﻦْ ﻧَﺒِﻴُّﻚَ

Wahai penghuni kubur ini, siapa Rabb mu? Apa dienmu? Dan siapa nabimu?
(HR. Abu Dawud No. 4127)
[Shahih : Ahkam al-Jana’iz hal. 198 karya Al-Albani. Ibnul Qayyim telah mendukung hadits ini, dan membantah dengan baik terhadap orang yang menganggapnya cacat]

Ikhwany fillah, pepatah yang mungkin sudah sering kita dengar bersama mengatakan, “Tak kenal maka tak sayang. Tak sayang maka tak cinta”. Nampaknya ini benar adanya, bagaimana mungkin kita bisa mencintai Allah, Rasulullah dan Islam jika kita tidak mengenalnya? Mungkinkah rasa cinta tersebut bisa tumbuh dengan subur tanpa ada proses perkenalan?


Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab رحه الله di dalam kitabnya yang sangat masyhur, Ushulus Tsalaatsah, mengatakan :

اعلم – رحمك الله – انه يجب علينا تعلم اربع مسائل
الألى : العلم، و هو معرفة الله، و معرفة نبيه، و معرفة دين الإسلام بالادلة
الثانية : العمل به
الثالثة : الدعوة اليه
الرابعة : الصبر على الأذى فيه

Ketahuilah -semoga engkau dirahmati Allah- bahwasannya wajib atas kita untuk mengetahui atau mempelajari tentang 4 persoalan,
1. Ilmu, yaitu ma’rifatullah (mengenal Allah), marifatun nabi (mengenal Nabi), ma’rifatud dienul Islam (mengenal Agama Islam),
2. Mengamalkannya,
3. Mendakwahkannya,
4. Sabar terhadap berbagai cobaan di dalamnya.

Nampaknya Syaikh Abdul Wahhab رحمه الله ingin memberikan substansi sekaligus memperjelas mengenai makna serta kandungan yang termaktub di dalam hadits Rasulullah صلى الله عليه و سلم di atas.

Ikhwany fiddin, ma’rifatullah (mengenal Allah) merupakan sebuah kewajiban bagi seluruh manusia yang tidak boleh diabaikan, tidak salah jika Syaikh Abdul Wahhab pun mewajibkannya. Untuk membuktikan klaim ini (yaitu wajibnya ma’rifatullah) mari kita simak dan renungkan bersama ayat masyhur yang berisi tentang tujuan penciptaan manusia dan jin.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون [ الذارياة : ٥٦ ]

Ibnu Katsir رحمه الله di dalam tafsirnya, ketika menafsirkan kata “illa liya’buduun”, beliau mengutip perkataan Ibnu Juraij sebagai berikut

ﻭﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺟﺮﻳﺞ ﺇﻻ ﻟﻴﻌﺮﻓﻮﻥ

Makna illa liya’buduun yaitu illa liya’rifuun (kecuali untuk mengenal Ku). [Lihat tafsir Ibnu Katsir]

Ayat ke 56 dalam surah Adz Dzariyaat adalah salah satu ayat yang berisi perintah untuk berkenalan dengan Allah. Dalam perkenalan ini maka Allah menciptakan semuanya, baik benda (hidup atau mati, padat, cair, kelihatan ataupun tidak, dll). Maupun suasana dan keadaan (sedih atau bahagia, susah atau senang, miskin atau kaya, pejabat atau rakyat, dll), juga termasuk hukum-hukum (halal, haram, sunnah, wajib, makruh, dll). Semua itu adalah cara Allah untuk memperkenalkan diriNYA.

Jika masih dirasa kurang, marilah kita coba lihat dan renungi juga firman Allah berikut,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.
(QS. Muhammad : 19)

Perhatikan ya ikhwatil kiroom, ayat yang mulia ini diawali dengan sebuah kata perintah (fi’il ‘amr), fa’lam yang maknanya secara bahasa adalah ilmuilah olehmu atau kamu pelarilah bahwa tidak ada illah selain Allah.

Syaikh As Sa’di رحمه الله berkata ketika menafsirkan ayat ke 28 di dalam surah Faathir,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءٌ…

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”.

Beliau mengatakan, “Ini artinya, setiap orang yang semakin berilmu tentang Allah niscaya dialah orang yang lebih banyak takut kepada-Nya. Sementara rasa takutnya kepada Allah itu pasti akan memunculkan sikap menahan diri dari kemaksiatan-kemaksiatan serta bersiap-siap untuk berjumpa dengan sosok yang ditakutinya (Allah). Ini merupakan dalil yang menunjukkan keutamaan ilmu, karena ia merupakan pendorong menuju rasa takut kepada Allah. Orang-orang yang senantiasa merasa takut kepada-Nya, itulah yang akan meraih kemuliaan dari-Nya…”
(Taisir al-Karim ar-Rahman , hal.756)

Ibnu Mas’ud رضي الله عنه pernah mengatakan, “Cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai
bukti keilmuan. Kurangnya rasa takut kepada Allah itu muncul akibat kurangnya pengenalan/ma’rifah yang dimiliki seorang hamba kepada Allah”. (Thariq al-Hijratain , dinukil dari adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [5/97])

Bagaimana cara kita untuk mengenal Allah?

ﻓﺈﺫﺍ ﻗﻴﻞ ﻟﻚ : ﺑﻢ ﻋﺮﻓﺖ ﺭﺑﻚ؟
ﻓﻘﻞ ﺑﺂﻳﺎﺗﻪ ﻭﻣﺨﻠﻮﻗﺎﺗﻪ، ﻭﻣﻦ ﺁﻳﺎﺗﻪ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻭﺍﻟﻨﻬﺎﺭ ﻭﺍﻟﺸﻤﺲ ﻭﺍﻟﻘﻤﺮ، ﻭﻣﻦ ﻣﺨﻠﻮﻗﺎﺗﻪ ﺍﻟﺴﻤﻮﺍﺕ ﺍﻟﺴﺒﻊ،
ﻭﺍﻷﺭﺿﻮﻥ ﺍﻟﺴﺒﻊ، ﻭﻣﻦ ﻓﻴﻬﻦ ﻭﻣﺎ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ

Ini adalah kutipan yang pas untuk menjawab pertanyaan di atas.

Maka jika anda ditanya : “Bagaimana cara anda mengenal Allah?”  Maka hendaklah anda jawab : (Saya dapat mengenal Allah) melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya dan melalui ciptaan-Nya. Diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah: malam, siang, matahari dan bulan. Sedang di antara ciptaan-Nya ialah : tujuh langit dan tujuh bumi beserta segala makhluk yang ada di langit dan di bumi serta yang ada di antara keduanya.
[Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Al Ushuluts Tsalaatsah hal. 5]

Dari kutipan di atas, dapat kita simpulkan bahwa ada 2 jalan (cara) untuk mengenal Allah, yaitu :

1. Mengenal Allah melalui ayat-ayat Qur’aniyyah (perkataan/firman Allah)

Di dalam Al Qur’an, ada 3 metode yang bisa kita pakai sebagai jalan untuk mengenal Allah, 3 metode ini juga terkadang disebut sebagai Aqsaamut Tauhid (pembagian Tauhid), metode tersebut antara lain :

A. Ma’rifatullah melalui Rububiyah Nya

Yang dimaksud dengan Rububiyah adalah kita mengenal bahwa Allah adalah Rabb semesta alam, Pencipta segala makhluk, Pemiliknya, Pengatur, Pemberi Rezeki dan Dia lah yang telah mengajar dan mendidik para Nabi, Rasul dan pengikutnya di atas aqidah yang benar, akhlaq yang terpuji, ilmu yang bermanfaat dan amal yang soleh. Di antara dalilnya :

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. (QS.Az-Zumar:62)

وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Perkasa atas segala sesuatu. (QS. Ali ‘Imran : 189)

اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ۖ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ۚ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ

Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ´Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu.
(QS. Ar-Ra’d : 2)

وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-‘Ankabut:60)

الرَّحْمَٰنُ [١] عَلَّمَ الْقُرْآن [٢]
خَلَقَ الْإِنْسَان [٣] عَلَّمَهُ الْبَيَان [٤]

(Tuhan) Yang Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan al Quran. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara.
(QS. Ar Rahman :1-4)

B. Ma’rifatullah melalui Asmaa’ wa Shifat

Asmaa’ wa shifat adalah kita mengenal Allah bahwa Allah mempunyai nama-nama yang agung dan sifat-sifat yang tinggi yang Dia beritahukan melalui lisan Rasul Nya di Al Quran maupun As Sunnah.

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ

Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang baik).
(QS. Ta Ha : 8)

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ [۲۳]
هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ [۲٤]

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
(QS. Al-Hasyr : 23-24)

Dalam sebuah hadits yang panjang yang diriwayatkan Imam Ahmad bin Hambal, bahwa Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda,

ﻣَﺎ ﺃَﺻَﺎﺏَ ﺃَﺣَﺪًﺍ ﻗَﻂُّ ﻫَﻢٌّ ﻭَﻻ ﺣَﺰَﻥٌ ﻓَﻘَﺎﻝَ :

“ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻲ ﻋَﺒْﺪُﻙَ ﺍﺑْﻦُ ﻋَﺒْﺪِﻙَ ﺍﺑْﻦُ ﺃَﻣَﺘِﻚَ ، ﻧَﺎﺻِﻴَﺘِﻲ ﺑِﻴَﺪِﻙَ ، ﻣَﺎﺽٍ ﻓِﻲَّ ﺣُﻜْﻤُﻚَ ، ﻋَﺪْﻝٌ ﻓِﻲَّ ﻗَﻀَﺎﺅُﻙَ ، ﺃَﺳْﺄَﻟُﻚَ ﺑِﻜُﻞِّ ﺍﺳْﻢٍ ﻫُﻮَ ﻟَﻚَ ، ﺳَﻤَّﻴْﺖَ ﺑِﻪِ ﻧَﻔْﺴَﻚَ ﺃَﻭْ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻪُ ﺃَﺣَﺪًﺍ ﻣِﻦْ ﺧَﻠْﻘِﻚَ ،
ﺃَﻭْ ﺃَﻧْﺰَﻟْﺘَﻪُ ﻓِﻲ ﻛِﺘَﺎﺑِﻚَ ﺃَﻭِ ﺍﺳْﺘَﺄْﺛَﺮْﺕَ ﺑِﻪِ ﻓِﻲ ﻋِﻠْﻢِ ﺍﻟْﻐَﻴْﺐِ ﻋِﻨْﺪَﻙَ ، ﺃَﻥْ ﺗَﺠْﻌَﻞَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﺭَﺑِﻴﻊَ ﻗَﻠْﺒِﻲ ﻭَﻧُﻮﺭَ ﺻَﺪْﺭِﻱ ، ﻭَﺟِﻼﺀَ ﺣُﺰْﻧِﻲ ﻭَﺫَﻫَﺎﺏَ ﻫَﻤِّﻲ .”

ﺇِﻻ ﺃَﺫْﻫَﺐَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻫَﻤَّﻪُ ﻭَﺣُﺰْﻧَﻪُ ﻭَﺃَﺑْﺪَﻟَﻪُ ﻣَﻜَﺎﻧَﻪُ ﻓَﺮَﺣًﺎ

Tidaklah seseorang ditimpa keresahan (kecemasan) dan kesedihan kemudian dia berkata,

“Ya Allah, sesungguhnya aku adalah  hamba Mu, anak dari hamba Mu (lelaki) dan anak dari hamba Mu (perempuan), ubun-ubunku ada di tangan Mu, hukum Mu berjalan padaku, Keputusan Mu adil bagiku, aku meminta kepada Mu dengan (berwasilahkan) semua nama yang Engkau miliki, Engkau namakan diri Mu dengannya, atau yang Engkau turunkan dalam kitab Mu atau yang Engkau ajarkan kepada salah satu dari makhluk Mu, atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib di sisi Mu, agar Engkau jadikan Al Quran yang agung sebagai petunjuk hatiku, cahaya kalbuku, penghapus kesedihanku dan penghilang kegelisahanku”,

kecuali Allah akan menghapus kesedihan dan keresahannya dan menggantikannya dengan kelapangan. [HR. Ahmad]

C. Ma’rifatullah melalui Uluhiyyah

Uluhiyyah maksudnya adalah cara kita mengenal Allah dengan menjadikan Nya satu-satunya Dzat yang disembah, Dia lah yang utama dan tidak ada selainnya, Dia lah tempat menyembah dan tiada sesembahan selain Nya.

Uluhiyyah ini merupakan inti dari kedua metoda di atas (Rububiyah & asmaa’ wa shifat), sekaligus juga menjadi pembatas antara muslim dan kafir. Artinya, barangsiapa yang menyelisihi Uluhiyyah Allah, maka ia telah kaafir dan murtad berdasarkan ijma’ para ulama’, tidak ada perselisihan dalam masalah ini.

مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۚ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
(QS. Yusuf : 40)

ۖ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ

Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri. (QS. Yusuf : 67)

Penjelasan lebih detail mengenai Uluhiyyah insya Allah akan dibahas pada materi tentang Tauhid mendatang.

2. Mengenal Allah melalui ayat-ayat Kauniyyah (ciptaan Allah).

Allah berfirman,

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (QS. Ali ‘Imran : 190)

Ikhwany fiddin, cara kedua untuk mengenal Allah adalah dengan memperhatikan, mengamati, merenungi serta mengobservasi segala ciptaan dan makhluq Nya. Kita perhatikan seluruh struktur bumi dan segala yang ada di dalamnya, seperti gunung-gunung tinggi yang menjadi pasak bumi, samudra luas nan indah dan lain sebagainya, betapa sangat rapi & teraturnya apa yang telah Dia ciptakan. Kita perhatikan juga langit beserta segala pernak-pernik di dalamnya, bintang dan segala gugusannya, planet-planet beserta orbit dan strukturnya, betapa kita akan terpukau dengan seluruh ciptaan Allah tersebut. Allahu Akbar!!!


Pun demikian dengan tubuh kita, letak organ yang pas dan sinergis dalam fungsinya, sistem tubuh yang sempurna dalam setiap tugasnya, bahkan bentuk serta detail yang mungkin belum mampu kita ungkap rahasianya, semua ini merupakan jalan kita untuk mengenal Allah, jalan bagi kita untuk lebih dekat dan takut kepada Allah.

Termasuk dalam kategori ayat kauniyah selain bumi dan langit serta apa yang ada di antara dan di dalamnya, adalah akal yang diberikan kita. Ya, akal kita juga menjadi salah satu ayat kauniyah yang diciptakan oleh Allah.

Adapun alam raya yang rapi dan sangat teratur ini akal fikiran tidak mungkin dapat menolak, ia telah tercipta dan pastilah ada pula yang menciptakannya. Itulah Allah Rabbul Alamin. Dan tidaklah masuk akal (logik) jika alam ini terjadi tanpa ada yang menjadikannya.
 
Maka orang yang menggunakan akal fikirannya dengan sebaik-baiknya pastilah ia akan sampai kepada suatu peringkat untuk Ma’rifatullah, kemudian akan beriman secara bersungguh-sungguh kepada Nya.

إِنَّ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِلْمُؤْمِنِينَ [٣]
وَفِي خَلْقِكُمْ وَمَا يَبُثُّ مِنْ دَابَّةٍ آيَاتٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُون [٤]
وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ رِزْقٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ آيَاتٌ لِقَوْمٍ يَعْقِلُون [٥]
تِلْكَ آيَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ ۖ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَ اللَّهِ وَآيَاتِهِ يُؤْمِنُون [٦]

Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman.
Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini.
Dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.
Itulah ayat-ayat Allah yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya; maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keterangan-Nya.
(QS. Al-Jatsiyah : 6)

Terakhir, marilah kita renungi ayat mulia berikut yang berisi tentang pujian Allah kepada mereka yang mau menggunakan akal mereka untuk beribadah dan mengenal Allah. Dalam ayat ini, Allah menjuluki mereka dengan sebutan :

1. ‘Ibaad (hamba Allah)
2. Alladziina hadaa humullah (Orang-orang yang mendapat hidayah Allah)
3. Uulul Albaab (Orang yang akalnya sehat/cerdas)

وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ لَهُمُ الْبُشْرَىٰ ۚ فَبَشِّرْ عِبَادِ [۱۷]
الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ [۱۸]

Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku,
(Yaitu mereka) yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal yang sehat.
(QS Az-Zumar :18)

اخير الدعو انا

عن الحمد لله…

و صلى الله على نبينا محمد و على آله و اصحابه و سلم…

 Team Asaatidz A.H.Q 

Silahkan berkomentar cerdas...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s