Mengapa Saya Tidak Memilih Jokowi

image

Ini adalah sebuah fakta dan silahkan dikomplain jika ada yang tidak setuju. Adalah hak saya begitu juga anda sebagai warga negara untuk mendapatkan pemimpin yang benar-benar sesuai dengan harapan kita semua.

1.Jokowi bukan pribadi yang tahu terima kasih.
Yang mengajak dan mempromosikan Jokowi untuk ikut kontestasi dalam Pilgub DKI adalah Hashim Djojohadikusumo (adik Prabowo) dan selanjutnya disetujui Prabowo untuk disandingkan dengan Ahok. Saat itu Megawati (PDIP) belum memberikan lampu hijau atas usulan tersebut karena Megawati awalnya masih lebih condong ke Fauzi Bowo. Karena lobby Prabowo akhirnya Megawati memberi lampu hijau pada detik-detik akhir sebelum batas terakhir pendaftaran Cagub/cawagub. Belum lama menjabat ternyata Jokowi ikut bursa Capres/Cawapres seperti yang saat ini sedang berlangsung. Ia berhadapan dengan Prabowo yang dulu telah banyak berjasa menjadikan Jokowi sebagai gubernur DKI.
Tindakannya ini bukan saja sebagai bentuk “penghianatan” terhadap Prabowo tetapi juga mendustai warga DKI yang telah memilih dia sebagai gubernur DKI.
Setahu saya budaya jawa itu sangat menghargai orang yang telah banyak berjasa dan akan sungkan jika berhadapan dengan orang yang telah banyak membantunya.


2.Jokowi tipe orang bosanan dan tidak bertanggung jawab.
Sebagai walikota Solo dan gubernur DKI Jokowi tidak menyelesaikan masa tugasnya hingga akhir periode jabatan dan lebih tergoda untuk ‘pindah kerja’ ke tempat lain. Padahal masalah kerja dan persoalan yang mestinya dia kerjakan belum diselesaikan atau malah belum dikerjakan sama sekali. Masalah-masalah yang ada diwariskan kepada wakilnya atau anak buahnya. Kalau ada persoalan cenderung cuci tangan dan menyalahkan anak buahnya.

3.Jokowi tipe pejabat yang tidak menghargai etika dan mau enaknya sendiri.
Jokowi menjadi peserta pilpres tetapi dia tidak mau melepaskan statusnya sebagai gubernur DKI. Sehingga kalau dia nanti tidak terpilih sebagai presiden maka masih punya alasan untuk kembali lagi menduduki gubernur DKI. Memang tidak ada aturan yang mengatur seorang pejabat mesti melepaskan jabatannya sebelum mengikuti pilkada di tempat lain atau Pilpres. Tetapi secara moral dan etika tindakan tersebut tidak layak dilakukan. Jokowi merupakan tipe pejabat yang tidak menghargai etika dan mau enaknya sendiri. Hal ini dapat menjadi contoh yang tidak elok bagi pejabat-pejabat daerah lainnya.

4.Jokowi adalah pejabat yang berkinerja buruk.
Siapa bilang Jokowi berprestasi? Lihat Solo, apa hebatnya? Lihat Jakarta, apa hebatnya? Kehebatan Jokowi selama ini adalah karena pencitraan yang berlebihan dari media massa tertentu.Kasus trans jakarta karatan, kasus monorel, dsb adalah contoh dari hasil kinerja buruk Jokowi.Saat penulis menulis tulisan ini ternyata BPK telah menemukan kebocoran pada APBD DKI senilai sekitar 1,5 T pada tahun anggran 2013 lalu. BPK memberikan rapot merah terhadap kinerja keuangan Pemda DKI.
Kasus seperti bus transjakarta karatan yang membuat heboh itu bisa saja akan menenggelamkan karier politik Jokowi selamanya Jika diusut secara serius oleh kejaksaan atau KPK hal itu tidak mustahil akan terjadi. Logikanya pengadaan bus yang nilainya lebih dari 1 Trilyun tersebut menurut ketentuan memang mesti sepengetahuan gubernur. Jadi adalah bohong jika Jokowi mengatakan tidak tahu menahu tentang pengadaan bus transjakarta.

5.Banyak pejabat daerah lainnya yang lebih hebat dari Jokowi.
Blusukan adalah senjata Jokowi yang paling ampuh. Padahal ada pejabat lain yang tidak kalah dari Jokowi kalau hanya soal blusukan, contohnya ibu Risma walikota Surabaya. Apa anda pernah lihat Jokowi atur parkir? Anda pernah lihat Jokowi ikut atur lalu lintas? Anda pernah lihat Jokowi membobol sendiri saluran air yang mampet? Anda pernah lihat Jokowi tanam bunga?Anda pernah lihat Jokowi ‘ngoprak ngoprak’ PSK ? Anda pernah lihat Jokowi memarahi didepan umum para kontraktor atau pengusaha nakal?
Semua itu telah dilakukan ibu Risma. Dan anda silahkan ke Surabaya maka anda kan lihat Surabaya lebih manusiawi dibandingkan dengan Solo apalagi Jakarta. Itu semua berkat tangan dingin ibu Risma dan dia tidak butuh pencitraan pencitraan segala yang terpenting adalah bekerja tulus untuk warga surabaya.

Terima kasih

*Ditulis oleh Markus Kristiyanto dari tulisan beliau di kompasiana.

3 thoughts on “Mengapa Saya Tidak Memilih Jokowi”

Silahkan berkomentar cerdas...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s