Hati-hati Menyebut Anak Gemuk, Dapat Menyebabkan Obesitas Saat Dewasa

image

Para orangtua, jangan pernah sekalipun menyebut anak gadis Anda ‘terlalu gemuk’ jika tidak ingin sang buah hati menjadi obesitas di masa depan.
Menurut penelitian, remaja putri yang dipanggil ‘gemuk’ atau ‘gendut’ cenderung lebih tinggi risikonya untuk mengalami kegemukan saat dewasa nanti.
Saat melihat tubuh anaknya terlalu gemuk, para orangtua mungkin akan merasa prihatin dan mencoba menyadarkan sang anak agar menjaga pola makannya.
Namun seringkali cara mereka keliru, salah satunya dengan berkata seperti, ‘kamu harus jaga makan, tubuh kamu sudah sangat gemuk.’ Namun label ‘gemuk’ yang datang dari orangtua, keluarga maupun lingkungan bukannya menyemangati para gadis muda ini untuk menjadi lebih sehat tapi justru memperburuk masalah berat badan mereka.

“Menyebut gadis remaja ‘terlalu gemuk’ memang tidak serta merta membuat mereka obesitas, tapi studi ini menunjukkan adanya kecenderungan ke arah situ,” jelas penulis penelitian A. Janet Tomiyama dari University of California, Los Angeles, seperti dikutip dari Reuters.
Studi tersebut merekrut 2.000 remaja wanita saat mereka berusia 10 tahun sebagai objek penelitian. Oleh para peneliti, perkembangan mereka diikuti selama lebih dari sembilan tahun. Periode penelitian sengaja dilakukan cukup lama untuk memastikan akurasi hasil penelitian yang didapatkan.
Di awal-awal periode penelitian, yaitu saat para partisipan berusia 10 tahun, mereka diberi pertanyaan; pernahkah mereka disebut ‘terlalu gemuk’ oleh orang-orang di sekitarnya? Entah itu ayah, ibu, saudara laki-laki, saudara perempuan, sahabat, lelaki yang disukai, teman perempuan lainnya, anak laki-laki lain atau guru.
Dari 2.000 responden, ada 1.188 yang menjawab ‘ya.’ Dari pengamatan dan pemeriksaan yang dilakukan Janet dan timnya, ditemukan bahwa remaja putri yang menjawab ‘ya’ cenderung memiliki indeks massa tubuh yang sudah masuk dalam kategori obesitas.
Kecenderungan ini tidak banyak ditemukan pada remaja putri yang menjawab ‘tidak.’
“Kami melihat dari bukti yang ada bahwa remaja yang mendapat stigma gemuk atau malu dengan berat badannya, rentan mengalami dampak negatif kesehatan baik secara psikis maupun fisik,” tutur Rebecca Puhl, direktur deputi Rudd Center for Food Policy & Obesity di Yale University di New Haven, Connecticut.

Silahkan berkomentar cerdas...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s