Cinta Ituu Sangat Sederhana

cinta itu sederhana

Kakek dan nenek itu membuka rahasia perkawinan mereka. Limapuluh tahun mereka lewati hidup berumah tangga dalam suka dan duka. Sang kakek kini berusia 75 tahun, dan nenek 70 tahun, saat merayakan ulang tahun perkawinan mereka.

Hal apa yang membuat hidup keluarga mereka selalu bahagia?

“Cinta itu hal yang sangat sederhana. Aku selalu mengingat kebaikan yang ia lakukan, sampai hal-hal kecil dan remeh sekalipun”, ujar kakek.

“Limapuluh tahun hidup bersama dalam rumah tangga, tidak mungkin kami menghindari konflik. Namun setiap terjadi konflik, aku selalu meredam kemarahan dengan mengingat berbagai kebaikan yang telah ia lakukan selama ini,” lanjutnya.

“Di mataku, ia adalah seorang istri yang memiliki sangat banyak kebaikan. Wajar kalau ada kekurangan dan kesalahan yang pernah ia lakukan, karena akupun juga punya kelemahan dan kesalahan. Maka jangan menyimpan ingatan tentang kekurangan dan kesalahannya,” demikian penuturan kakek.

Menyederhanakan Hal Rumit

Sebenarnya yang membuat segala sesuatu tampak sederhana atau rumit, adalah diri kita sendiri. Bagaimana kita memandang dan menyikapi segala sesuatu. Sesuatu yang rumit bisa menjedai demikian sederhana, sebaliknya sesuatu yang sebenarnya sederhana bisa menjadi demikian rumit. Semua kembali kepada kita.

Banyak pasangan suami istri mengalami kerumitan dalam menjalani kehidupan rumah tangga, sampai kepada pertanyaan absurd yang tidak bisa mereka jawab sendiri: “Apakah kita masih saling mencinta?” Sedemikian rumit mereka memahami perasaan cinta di hati, sampai tidak bisa lagi mendefinisikan perasaan yang sedang berkembang. Keluarga menjadi terasa guncang dan mengambang.

Sebenarnya kalau kita mau menjadikan cinta dalam kehidupan keluarga menjadi sederhana, kita bisa melakukannya. Tidak memandang cinta sebagai hal yang rumit, karena sesungguhnya cinta itu adalah hal-hal sederhana yang dilakukan dengan ketulusan dalam kehidupan keseharian.

Kakek dan nenek dalam kisah di atas memberikan pelajaran penting bagaimana cara menyederhanakan cinta. Semua kebaikan yang dilakukan pasangan dalam kehidupan berumah tangga, adalah tanda cinta. Istri yang memasak untuk sarapan atau makan malam keluarga, adalah cinta. Suami bekerja mencari nafkah untuk keluarga, adalah tanda cinta.

Istri membukakan pintu rumah saat suami pulang kemalaman, adalah cinta. Suami membersihkan dan merapikan rumah yang berantakan, adalah cinta. Istri memijit suami yang tengah kelelahan, adalah cinta. Suami mengantar istri menuju tempat kegiatan, adalah cinta. Istri membuatkan teh panas untuk suami, adalah cinta. Suami menemani anak bermain, adalah cinta. Istri membantu anak mengerjakan PR, adalah cinta.

Jika kita mampu memandang dengan cara seperti itu, niscaya kita menjumpai sangat banyak cinta dalam rumah tangga kita. Bukankah setiap hari suami dan istri selalu memproduksi kebaikan dalam kehidupan berumah tangga? Itulah cinta.

Menjaga Kemesraan Sampai Usia Senja

Ternyata hal-hal sederhana seperti itulah yang akan mampu merawat serta menjaga kemesraan pasutri hingga usia senja. Tidak selalu dengan rumah megah dan mobil mewah. Tidak selalu dengan tampilan gagah dan tabungan berlimpah. Cukup dengan hal-hal sederhana yang sudah biasa dilakukan dalam kehidupan keluarga.

Jika semua kebaikan dilakukan dengan ketulusan, maka itu akan mampu menjaga dan merawat cinta kasih suami istri hingga usia senja. Konflik dan pertengkaran akan mampu dihadapi dengan baik sehingga tidak merusak kebahagiaan berumah tangga. Kita masih ingat lagu Kemesraan yang dinyanyikan Iwan Fals. Sepertinya sangat cocok untuk mengakhiri tulisan ini.

Suatu hari
Di kala kita duduk ditepi pantai
Dan memandang
Ombak di lautan yang kian menepi

Burung camar
Terbang bermain di derunya air
Suara alam ini
Hangatkan jiwa kita

Sementara
Sinar surya perlahan mulai tenggelam
Suara gitarmu
Mengalunkan melodi tentang cinta

Ada hati
Membara erat bersatu
Getar seluruh jiwa
Tercurah saat itu

Kemesraan ini
Janganlah cepat berlalu
Kemesraan ini
Ingin kukenang selalu

Hatiku damai
Jiwaku tentram disampingmu
Hatiku damai
Jiwaku tentram bersamamu

Disalin ulang dari tulisan Cahyadi Takariawan

Silahkan berkomentar cerdas...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s